liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
Pesona Sharm el Sheikh, Kota Resort di Mesir Tuan Rumah COP27

Matahari bersinar cerah saat saya melangkah keluar dari terminal kedatangan di Bandara di Sharm el Sheikh, Mesir. Suhunya sekitar 29° celsius tapi terasa nyaman. Hari itu, Sabtu (10/6) suasana di bandara ramai pengunjung. Sebagian besar dari mereka datang ke kota untuk menghadiri Konferensi Partai (COP) ke-27.

Nama Sharm el Sheikh mungkin terdengar asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Bahkan, ini adalah salah satu tujuan wisata utama Mesir. Terletak di Semenanjung Sinai, kota ini menghadap ke Laut Merah. Tak heran jika Sharm, demikian penduduk setempat menyebutnya, terkenal sebagai kota resor yang menawarkan berbagai wisata seru. Dari pengalaman tak terlupakan di padang pasir hingga atraksi bahari yang menawan.

Menuju ke Sharm el Sheikh dapat ditempuh melalui beberapa rute dari Indonesia. Sayangnya, tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Kairo atau Sharm. Namun, ada pilihan penerbangan transit via Dubai, Muscat, Jeddah atau Istanbul yang bisa menjadi pilihan.

Dari kota-kota besar di Timur Tengah ini, penerbangan bisa dilanjutkan ke Kairo dan
ganti maskapai Egypt Air ke Sharm el Sheikh. Meski transit di Istanbul, penerbangan bisa dilakukan langsung ke Sharm tanpa perlu berhenti di Kairo.

Sharm el Sheikh terlihat sangat siap menjadi tuan rumah COP27. Selama dua minggu ke depan, dari 6-18 November 2022, sekitar 40.000 orang diharapkan menghadiri konferensi perubahan iklim di Sharm. Ini termasuk lebih dari 100 kepala negara dari seluruh dunia yang akan menghadiri KTT Pemimpin Dunia pada dua hari pertama COP27.

Perjalanan dari bandara ke pusat kota hanya membutuhkan waktu 20 menit. Dengan jumlah penduduk hanya 73.000 ribu jiwa, hampir tidak ada kemacetan di kota ini. Jalanan terlihat lebar dengan aspal hitam yang tampak baru. Resor dan hotel mewah terlihat berderet di kanan dan kiri jalan.

Khaled, sopir taksi yang membawa saya ke hotel, memberi tahu saya bahwa Sharm el Sheikh sedang dibangun. Setelah pandemi Covid-19 mereda, banyak proyek pembangunan hotel dan resort yang dilanjutkan.

Sharm el Sheikh (Katadata)

Poster hijau besar bertuliskan ‘Sharm el Sheikh, Kota Damai dan Cinta’ dipajang di terminal kedatangan bandara. Julukan ini bukan tanpa alasan. Sharm, berpengalaman dalam mengorganisir beberapa agenda penting, khususnya bagi negara-negara di Timur Tengah.

Pada tahun 1999, misalnya, perjanjian perdamaian pertama antara Israel dan Palestina diadakan di Sharm el Sheikh. Begitu juga dengan konferensi Intifada Palestina yang digelar setahun kemudian. Di tahun 2000-an, Sharm juga menjadi tuan rumah beberapa acara kelas dunia. Mulai dari konferensi pembangunan Irak dan Timur Tengah hingga World Economic Forum.

“Kami menerima banyak tamu asing,” kata Khaled dengan bangga.

Sharm memiliki fasilitas kelas dunia untuk menyelenggarakan acara internasional. Di sepanjang ‘Jalan Salam’ yang berarti ‘Jalan Damai’, beberapa gedung MICE berjajar berdampingan. COP27 sendiri akan diselenggarakan di Sharm El-Sheikh International Convention Center (SHICC).

Tak hanya itu, Sharm juga menawarkan beberapa tempat wisata yang menarik. Sekitar 20 kilometer dari pusat kota, terdapat Taman Nasional Ras Muhamad yang disebut-sebut sebagai salah satu tempat menyelam di Laut Merah. Letak Sharm juga tidak jauh dari Gunung Sinai yang diyakini sebagai tempat Nabi Musa menerima wahyu dari Sang Pencipta.

Sharm bukanlah tipikal kota tua dan kuno seperti kebanyakan tempat wisata di Mesir. Namun, dengan gurun Sinai dan Laut Merah yang mengapitnya, Sharm el Sheikh adalah wajah Mesir yang berbeda dari piramida atau Sphinx.