liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86

Pertamina Energi Baru & Terbarukan bersama dengan Keppel New Energy Pte. Ltd., dan Chevron New Energies International Pte. Ltd., telah menandatangani Joint Study Agreement (JSA) untuk menjajaki pengembangan green hydrogen dan green ammonia di wilayah kerja panas bumi (WKP) Sumatera.

Perjanjian tersebut bermaksud untuk menjajaki kemungkinan pengembangan fasilitas hidrogen hijau, dengan kapasitas produksi minimum 40.000 ton per tahun yang didukung oleh setidaknya 250-400 megawatt (MW) energi panas bumi.

Fasilitas produksi hidrogen akan berpotensi ditingkatkan hingga 80.000 dan 160.000 ton per tahun tergantung pada ketersediaan energi panas bumi dan permintaan pasar.

Direktur Utara EBT Pertamina Dannif Danusaputro mengatakan pengembangan green hydrogen dan green ammonia memiliki peran penting dalam roadmap Net Zero Emissions (NZE) Indonesia. Pasalnya, mengutip laporan International Energy Agency (IEA), Hidrogen dan amonia sudah teridentifikasi sebagai bahan bakar rendah karbon.

Amoniak juga dapat digunakan untuk mengangkut hidrogen dan berpotensi menggantikan bahan bakar minyak pengapalan sebagai solusi rendah karbon dalam industri maritim global.

Dengan menyandang predikat sebagai negara yang memiliki sekitar 40% potensi sumber daya panas bumi dunia, Indonesia berpeluang untuk memanfaatkan energi panas bumi sebagai sumber energi yang andal dan stabil untuk menghasilkan amoniak hijau atau hidrogen hijau.

“Dengan potensi ini, kami yakin Indonesia akan memainkan peran penting dalam produksi hidrogen hijau di Asia. Kami sangat senang dengan kolaborasi strategis ini karena kami yakin Keppel dan Chevron adalah perusahaan terkemuka yang memiliki visi yang sama dalam transisi energi seperti kami lakukan,” katanya melalui surat kabar broadcast., Jumat (11/11).

Penandatanganan kerjasama studi bersama dilakukan di Business Investment Forum 20 (B20) di Bali oleh Direktur Utama Pertamina EBT, Dannif Danusaputro; Direktur Keppel New Energy, Pte., Ltd., Yong-Hwee Chua dan Direktur Chevron New Energies International, Pte., Ltd. Andrew S.Mingst.

Kesepakatan ini juga disaksikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan; Ketua KADIN, Arsjad Rasjid; Ketua B20, Shinta Kamdani dan Direktur Utama PT Pertamina serta Ketua Gugus Tugas Energi, Keberlanjutan, dan Iklim B20, Nicke Widyawati.

Chief Executive Officer Keppel Infrastructure, Cindy Lim, mengatakan Indonesia merupakan negara dengan sumber daya yang sangat besar yang memiliki potensi energi terbarukan dan rendah karbon yang sangat tinggi.

Ia menambahkan, kerja sama tersebut sejalan dengan visi Keppel 2030 yang menempatkan keberlanjutan sebagai inti dari strategi bisnis perusahaan. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas jejak geografis Keppel Infrastructure dalam menciptakan dan menangkap nilai tambah dari komitmen global untuk mencapai net zero dan transisi energi.

“Kami senang dapat bekerja sama dengan para pemimpin industri, Pertamina dan Chevron, untuk mengeksplorasi penggunaan utama energi panas bumi dan energi terbarukan lainnya untuk mengembangkan proyek hidrogen hijau dan amonia hijau,” kata Cindy Lim.

Sementara itu, Vice President Hydrogen Chevron New Energies, Austin Knight mengatakan, kolaborasi ini dapat memecahkan masalah energi yang besar dan kompleks, serta membangun masa depan rendah karbon menjadi peluang bisnis yang kredibel.

Sebagai bagian dari upaya ini, Chevron, bersama dengan Pertamina dan Keppel, harus bekerja sama menemukan cara baru yang inovatif untuk terus memproduksi dan menghadirkan energi yang lebih bersih untuk dunia yang terus berkembang.

“Kami memiliki sejarah panjang beroperasi di Indonesia dan bekerja sama dengan Pertamina, serta memiliki hubungan kerja yang erat dengan Keppel Infrastructure. Kami berharap dapat memanfaatkan keahlian bersama ini untuk mempelajari dan mengevaluasi peluang bisnis rendah karbon di kawasan ini,” kata Knight.