liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
Indonesia Raih Pinjaman Rp 4,7 T untuk Atasi Sampah Plastik di Laut

Indonesia telah memperoleh pinjaman senilai €300 juta atau setara dengan Rp4,7 triliun (kurs Rp15.700) dari KfW Development Bank, Asian Development Bank dan French Development Agency (AFD) untuk mengurangi sampah plastik di laut.

Komite Manajemen Bank Pembangunan KfW, Christian Krämer, mengatakan pinjaman ini mendukung target Indonesia untuk mengurangi sampah plastik di laut sebesar 70% pada tahun 2025.

Hal ini didasarkan pada matriks kebijakan yang disepakati melalui dialog dengan kementerian terkait, sesuai dengan prioritas nasional yang ditetapkan oleh pemerintah sebelumnya.

“Setelah kita mencapai tujuan ini, pinjaman ini akan disalurkan,” kata Krämer dalam diskusi bertajuk Aksi Kolaboratif Penanganan Sampah Plastik di Indonesia di Paviliun Indonesia dalam rangkaian COP27, Sharm El-Sheikh, Mesir, Rabu (9/11). ). ) pagi waktu setempat.

Dalam paparannya, pinjaman ini akan diberikan untuk setiap tahapan kebijakan yang terkait dengan tujuan tersebut dan akan langsung masuk ke kas anggaran. Selanjutnya akan ada pelengkap berupa hibah bantuan teknis kepada kementerian terkait. Contoh bantuan teknis ini dapat berupa studi benchmarking, capacity building, dan konsultasi kebijakan.

Dalam kesempatan yang sama, Krämer menilai penanganan sampah plastik di Indonesia sudah mulai menunjukkan hasil, namun masih berjalan lambat.

Menurutnya, permasalahan utama ada di sektor hilir, dimana rata-rata pengumpulan sampah di Indonesia masih sekitar 39% dan hanya 10% yang didaur ulang. Limbah yang tidak diolah ini kemudian dimasukkan ke dalam 10% emisi gas rumah kaca Indonesia.

Selain itu, nilai anggaran untuk pengelolaan sampah di tingkat kota dinilai tidak mencukupi. Bahkan, Indonesia harus meningkatkan pengumpulan sampah plastik hingga dua kali lipat dari nilai saat ini, 39%, menjadi lebih dari 80% pada tahun 2025.

Masalah lain yang juga disorot oleh Krämer adalah kurangnya pendataan sampah laut di Indonesia. Menurutnya, adanya data yang transparan dan terpercaya dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap program ini.

“Kalau tidak, rencana aksi tidak akan tercapai dan pendanaan ini tidak akan berhasil. Jadi penting untuk melibatkan masyarakat, dan ini bisa dilakukan dengan pendataan yang cermat,” ujarnya.

Berdasarkan laporan Condor Ferries, ada sekitar 12,7 juta ton sampah plastik di lautan setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 3,53 juta ton atau 29% sampah plastik di lautan berasal dari China.

Negara Asia lainnya juga menyumbang jumlah sampah plastik terbesar yaitu 21%. Indonesia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka adalah negara-negara di Asia yang memberikan kontribusi signifikan terhadap banyaknya sampah plastik di lautan.

Sampah plastik membunuh lebih dari 1 juta burung laut dan 100 ribu mamalia laut. Sebanyak 700 spesies hewan laut terancam punah akibat keberadaan limbah plastik ini.

Partikel dalam sampah plastik juga berbahaya bagi manusia. Ini karena manusia memakan ikan atau hewan laut yang telah menelan partikel beracun dari sampah plastik. Lihat kotak data berikut: