liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Airlangga: RI Menjadi Raja Energi Hijau Jika Potensinya Digarap Serius

Indonesia disebut-sebut sebagai raja di sektor energi hijau seperti Arab Saudi yang dikenal sebagai raja minyak dunia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan tidak ada negara yang bisa menyaingi potensi energi hijau Indonesia.

“Jika Arab Saudi adalah raja bahan bakar fosil, maka Indonesia adalah rajanya energi hijau. Tidak ada satu negara pun yang bisa mengalahkan Indonesia, jika kita bersungguh-sungguh dan jika PLN bersungguh-sungguh,” ujarnya dalam acara PLN Muatan Lokal Gerakan Untuk Bangsa (Lokomotif) 2022 di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (23/11). .

Airlangga mengungkapkan hal itu karena adanya peningkatan jumlah investasi dan bantuan keuangan untuk mendukung transisi energi di Tanah Air.

Antusiasme investor terlihat dari proyek kawasan industri hijau di Kalimantan Utara (Kaltara) hingga komitmen bantuan dari kemitraan G7+ untuk membiayai transisi energi senilai US$20 miliar melalui skema Just Energy Transition Partnership (JETP).

“Alokasi JETP Indonesia mencapai US$ 20 miliar, sedangkan Afrika Selatan saja hanya US$ 8,5 miliar. Jadi ini harus dimanfaatkan karena ini investasi,” ujarnya.

Airlangga mengatakan, pihaknya juga terus memantau perkembangan proyek PLTA Kayan Cascade, di Kalimantan Utara. Proyek ini merupakan bagian dari penjajakan pengembangan industri hijau di Kalimantan Utara dengan memanfaatkan energi dari PLTA.

“Pada dasarnya pemilik hydro akan bertukar dengan pemilik PLTU jadi tentunya ini salah satu mekanisme peralihan energi yang belum pernah ada di dunia. Jadi Indonesia sekali lagi pionir,” ujarnya.

Airlangga menyatakan, setelah berhasil menduduki posisi Presiden G20, Indonesia menjadi negara yang menjadi sorotan dunia. Banyak negara dari seluruh dunia mengapresiasi Indonesia dan berbagi komitmen untuk membantu Indonesia dalam pembangunan dan pembangunan ekonominya, termasuk dalam pengembangan energi hijau.

Tidak hanya di G20, KTT APEC di Bangkok juga mengangkat tema bio-circular green economy sehingga berkontribusi pada pengembangan energi baru dan terbarukan.

“Kita ke depan, kita punya biofuel, apalagi kita dorong untuk biomassa. Biomassa ini akan dikembalikan ke ESDM dan PLN agar offtake bisa diberikan lebih baik karena biomassa adalah energi rakyat,” ujarnya.

Lebih lanjut, menurut Airlangga, energi berbasis metana juga berpotensi untuk dikembangkan di masa depan. Selain berasal dari pertanian, metana juga merupakan sumber energi yang dihasilkan dari kegiatan berbasis masyarakat.

“Kalau PLN bisa membantu metana, ini juga akan menjadi hal yang luar biasa,” kata Airlangga.